You need to enable javaScript to run this app.

Integrasi Visual Thinking Strategies (VTS) dan Artificial Intelegence (AI) berbasis GEMBIRA Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa

  • Kamis, 16 Juli 2026
  • Waka Humas
  • 0 komentar
Integrasi Visual Thinking Strategies (VTS) dan Artificial Intelegence (AI) berbasis GEMBIRA Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa

Penulis : Meta Mustika Sari, S.Pd, M.Pd
Instansi : SMAN 10 Kota Tangerang Selatan
Mata Pelajaran : Matematika

Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika jenjang SMA di Provinsi Banten menunjukkan capaian yang masih perlu ditingkatkan, dengan rata-rata nilai berada di kisaran 37,57. Angka ini menjadi sinyal penting bahwa proses pembelajaran matematika di lapangan perlu dievaluasi dan diperbaiki secara berkelanjutan. Jika ditelusuri lebih dalam, data capaian kompetensi memperlihatkan bahwa materi Transformasi Geometri menjadi salah satu titik lemah, dengan persentase penguasaan hanya sekitar 18,93%. Kelemahan ini paling menonjol pada dua kemampuan spesifik, yaitu menentukan bayangan titik hasil transformasi dan memahami komposisi transformasi yang meliputi refleksi, translasi, rotasi, dan dilatasi.

Kondisi serupa juga tergambar dari daftar kolektif hasil TKA di SMAN 10 Kota Tangerang Selatan, tempat saya mengajar. Sebagian siswa masih menunjukkan hasil belajar matematika yang belum memadai, khususnya pada materi transformasi geometri. Temuan ini menjadi titik tolak bagi saya untuk merancang ulang strategi pembelajaran agar lebih relevan, kontekstual, dan mampu menjangkau kebutuhan belajar setiap siswa.

Sebagai guru, tantangan yang saya hadapi di kelas tidak hanya berkaitan dengan rendahnya capaian akademik, tetapi juga dengan keberagaman karakter dan kebutuhan belajar siswa. Setiap siswa memiliki kesiapan, minat, dan gaya belajar yang berbeda-beda, sehingga pendekatan pembelajaran yang seragam tidak lagi memadai untuk mengakomodasi seluruh kebutuhan tersebut. Di sisi lain, perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI) berlangsung sangat cepat, namun potensinya sebagai media pembelajaran di kelas belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagai pendidik, saya menyadari bahwa pendekatan pembelajaran perlu mempertimbangkan latar belakang siswa secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi konten, tetapi juga metode dan media pembelajaran yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Berangkat dari kesadaran tersebut, saya mengembangkan sebuah praktik baik yang mengintegrasikan pendekatan Visual Thinking Strategies (VTS) dan kecerdasan artifisial (AI) melalui kerangka kegiatan bernama GEMBIRA, akronim dari Gali, Eksplorasi, Muat, Buat, dan Rayakan. Pendekatan ini dipilih karena dinilai mampu menjawab kebutuhan belajar siswa yang beragam sekaligus meningkatkan pemahaman mereka terhadap konsep matematika yang selama ini dianggap abstrak dan sulit dipahami.

Foto dokumentasi ice breaking

 

Implementasi praktik baik ini difokuskan pada materi refleksi, salah satu submateri dari transformasi geometri yang capaiannya masih rendah. Untuk menjembatani konsep matematika yang abstrak dengan pengalaman belajar yang konkret dan bermakna, saya merancang sebuah proyek pembelajaran bertajuk "Membuat Motif Batik Digital yang Terinspirasi dari Ragam Motif Khas Banten" dengan memanfaatkan aplikasi GeoGebra sebagai media utama. Pemilihan batik sebagai konteks pembelajaran bukan tanpa alasan. Batik khas Banten kaya akan pola simetri dan pencerminan, sehingga secara alami menjadi jembatan yang tepat untuk mengenalkan konsep refleksi kepada siswa, sekaligus menumbuhkan kecintaan mereka terhadap budaya lokal. Melalui proyek ini, matematika tidak lagi hadir sebagai deretan rumus yang harus dihafal, melainkan sebagai alat untuk berkarya dan berekspresi.

Gambar Inspirasi Motif Batik Banten

Langkah pertama yang saya lakukan adalah memetakan kebutuhan belajar siswa secara menyeluruh. Saya menggunakan asesmen non-kognitif berbasis Google Form untuk menggali kesiapan belajar, minat, dan profil gaya belajar setiap siswa. Asesmen ini kemudian dilengkapi dengan asesmen kognitif, juga melalui Google Form, untuk mengukur pemahaman awal siswa terhadap konsep refleksi sekaligus mengenalkan ragam motif dan kekayaan budaya batik Banten sejak tahap awal pembelajaran.

Dari hasil pemetaan tersebut, teridentifikasi bahwa sebagian besar siswa memiliki kecenderungan gaya belajar audio-visual dan kinestetik. Berdasarkan data ini, saya memilih delapan siswa dengan nilai asesmen kognitif tertinggi untuk berperan sebagai ketua kelompok. Seluruh siswa kemudian dibagi ke dalam delapan kelompok secara heterogen menggunakan aplikasi Random Group Generator, dengan harapan setiap kelompok memiliki komposisi kemampuan dan gaya belajar yang seimbang sehingga proses saling belajar antarsiswa dapat berlangsung secara optimal.

Pembelajaran dimulai dengan fase Gali, saat siswa diajak mengamati berbagai gambar motif batik khas Banten melalui pendekatan Visual Thinking Strategies. Pendekatan ini menggunakan tiga pertanyaan kunci yang bersifat terbuka: apa yang kamu lihat, apa yang membuat kamu berkata demikian, dan apa lagi yang dapat kamu temukan. Melalui rangkaian pertanyaan tersebut, siswa tidak diberi tahu secara langsung mengenai konsep refleksi, melainkan didorong untuk menemukan sendiri pola simetri dan pencerminan yang tersembunyi di balik keindahan motif batik. Proses menemukan sendiri ini terbukti menumbuhkan rasa ingin tahu yang lebih kuat dibandingkan pembelajaran yang bersifat satu arah.


Foto dokumentasi - Kegiatan Pendahuluan

 

Pada fase Eksplorasi, setiap anggota kelompok diberi keleluasaan untuk mempelajari konsep refleksi melalui sumber belajar yang disesuaikan dengan gaya belajar mereka masing-masing. Ada siswa yang menyimak video pembelajaran matematika, ada yang berinteraksi langsung dengan aplikasi GeoGebra, dan ada pula yang membaca artikel yang telah disediakan melalui Google Classroom. Selain itu, siswa juga didorong untuk memanfaatkan AI sebagai tutor tambahan, baik untuk mengklarifikasi konsep yang belum dipahami maupun untuk memeriksa kembali hasil refleksi yang telah mereka kerjakan. Fase ini secara nyata mencerminkan penerapan diferensiasi proses, karena setiap siswa memiliki jalur belajar yang berbeda namun tetap mengarah pada tujuan pembelajaran yang sama.

Memasuki fase Muat, saya memandu diskusi kelas menggunakan proyeksi GeoGebra yang dipadukan dengan pendekatan VTS. Siswa melakukan latihan terbimbing untuk merefleksikan titik dan bangun datar terhadap sumbu x, sumbu y, dan garis y = x menggunakan handphone atau laptop masing-masing, disesuaikan dengan ketersediaan perangkat setiap siswa. Diferensiasi proses dan konten terlihat jelas pada fase ini, sebab setiap siswa dapat belajar dengan media dan kecepatan yang sesuai dengan kondisinya masing-masing, tanpa harus tertinggal atau merasa terburu-buru mengikuti ritme kelas.


Foto dokumentasi - diskusi kelompok

Fase Buat merupakan puncak dari seluruh rangkaian pembelajaran ini. Setiap kelompok merancang dan membuat motif batik digital di GeoGebra yang terinspirasi dari motif batik khas Banten, dengan syarat menerapkan minimal dua jenis refleksi secara eksplisit dalam karya mereka. Pada tahap ini, siswa juga memanfaatkan AI sebagai asisten desain untuk memunculkan ide pola awal, yang kemudian tetap mereka implementasikan dan modifikasi secara mandiri di GeoGebra. Pendekatan ini menjadi wujud nyata dari diferensiasi minat, karena setiap kelompok bebas mengeksplorasi motif dan gaya visual sesuai preferensi mereka.

Keberagaman juga tampak pada bentuk hasil karya yang dikumpulkan, yang mencerminkan diferensiasi produk. Sebagian kelompok memilih mempresentasikan karya secara langsung di kelas, sebagian lain mengunggah hasil karyanya dalam format JPEG dan PNG, sementara beberapa kelompok memilih membuat video vlog yang mendokumentasikan proses pembuatan motif batik digital mereka dari awal hingga akhir.

Pada fase terakhir, yaitu Rayakan, setiap kelompok mempresentasikan karya motif batik GeoGebra yang telah mereka buat, sementara kelompok lain memberikan apresiasi dan umpan balik secara konstruktif. Seluruh karya kemudian dikompilasi menjadi sebuah galeri digital bertajuk "Batik Refleksi Banten" yang dapat dinikmati bersama oleh seluruh warga sekolah. Sebagai bentuk asesmen sumatif, siswa secara mandiri menyelesaikan tantangan evaluasi melalui Google Form. Sebagai penutup rangkaian pembelajaran, siswa menuliskan atau menggambarkan refleksi diri mereka di papan tulis, sebuah kegiatan yang sengaja dirancang untuk mengakomodasi siswa dengan gaya belajar kinestetik.


Gambar dokumentasi hasil proyek murid

Pengalaman menerapkan praktik baik ini semakin menegaskan bahwa pembelajaran berdiferensiasi pada dasarnya adalah pembelajaran yang dirancang secara variatif oleh guru, sehingga mampu memenuhi seluruh kebutuhan belajar siswa yang beragam. Melalui pendekatan ini, tidak ada siswa yang tertinggal, dan setiap siswa memperoleh kesempatan yang setara untuk berkembang sesuai dengan potensi dan minatnya masing-masing. Integrasi VTS dan AI dalam kerangka GEMBIRA membuktikan bahwa teknologi dan strategi visual dapat berjalan beriringan untuk menciptakan pengalaman belajar matematika yang lebih bermakna, kontekstual, dan menyenangkan.

Penerapan praktik baik ini memberikan dampak yang cukup terasa, baik pada aspek kognitif maupun afektif siswa. Dari sisi pemahaman konsep, siswa tidak hanya mampu menentukan bayangan hasil refleksi secara prosedural, tetapi juga memahami makna refleksi secara visual melalui karya yang mereka hasilkan sendiri. Keterlibatan AI sebagai tutor tambahan turut membantu siswa memperoleh umpan balik secara cepat, sehingga proses belajar tidak lagi bergantung sepenuhnya pada waktu tatap muka di kelas.

Dari sisi afektif, antusiasme siswa terlihat meningkat signifikan. Proyek batik digital berhasil mengubah persepsi siswa terhadap matematika, dari mata pelajaran yang dianggap kaku menjadi sarana berekspresi yang menyenangkan. Suasana kelas yang lebih hidup, kolaboratif, dan berbasis proyek turut mendorong tumbuhnya rasa percaya diri siswa dalam menyampaikan gagasan maupun mempresentasikan hasil karya di depan teman-temannya.


Foto dokumentasi - presentasi murid

Feiz'za Aninda Firmansyah, siswa kelas XI.1, mengungkapkan bahwa pembelajaran ini terasa jauh lebih menyenangkan dibandingkan pembelajaran matematika pada umumnya. Ia mengaku sebelumnya tidak pernah membayangkan bahwa matematika dapat dikaitkan dengan seni. Namun, setelah mengikuti pembelajaran menggunakan GeoGebra untuk membuat motif batik berbasis konsep refleksi, ia menyadari bahwa matematika ternyata dapat menjadi bentuk seni yang menyenangkan untuk dipelajari.

Sementara itu, Ibu Eka Fitriana Pratiwi, S.Pd., guru matematika di SMAN 10 Kota Tangerang Selatan sekaligus rekan sejawat, menilai bahwa pembelajaran materi refleksi dengan pendekatan VTS dan AI ini sangat inovatif dan inspiratif. Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya membantu siswa memahami materi melalui aplikasi GeoGebra, tetapi juga berhasil mengaitkan konsep matematika dengan kehidupan sehari-hari, khususnya melalui pembuatan motif batik yang sarat nilai budaya lokal.

Praktik baik ini menjadi bukti bahwa integrasi Visual Thinking Strategies dan kecerdasan artifisial melalui kerangka GEMBIRA mampu menjawab tantangan rendahnya capaian siswa pada materi transformasi geometri, sekaligus mengakomodasi keberagaman karakter dan kebutuhan belajar di kelas. Ke depan, saya akan terus berupaya mengaktualisasikan rancangan pembelajaran yang senantiasa disesuaikan dengan kebutuhan siswa, baik dari sisi konten, proses, maupun produk pembelajaran.


Foto dokumentasi - refleksi pembelajaran

Saya menyadari sepenuhnya bahwa guru pada abad ke-21 dituntut untuk terus mau belajar dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi, agar mampu menerapkan berbagai aplikasi pembelajaran secara relevan di kelas. Upaya ini bukan sekadar untuk menambah wawasan, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab guru dalam menyiapkan generasi emas yang siap dan tangguh menghadapi tantangan di masa depan.

#LombaArtikelGuru
#ArtikelprotasGTK
#GuruMenulis
--- ---

DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2026). Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) Tahun Pelajaran 2025/2026. Pusat Asesmen Pendidikan, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah. Diakses pada 14 Juli 2026, dari https://tka.kemendikdasmen.go.id/hasiltka/

Yudhistira, Tubagus. "Batik of Banten, Indonesia.png." Wikipedia bahasa Indonesia. 9 April 2017. https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Batik_of_Banten,_Indonesia.png.

Bagikan artikel ini:
Drs. Usman, M.Pd.

- Kepala Sekolah SMA N 10 Tangsel -

Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Salam sejahtera untuk kita sekalian.   Segala puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT Tuhan...

Berlangganan
Banner